Kamis, 24 November 2011

Perbedaan Masa Aksara dan Pra Aksara

PERBEDAAN MASA PRA AKSARA DAN MASA AKSARA
 
No.
Unsur Pembanding
Masa Pra Aksara
Masa Aksara
1.
Sistem kepercayaan/agama
Menganut animisme dan dinamisme
Menganut agama Hindu dan Buddha
2.
Tempat tinggal
Berpindah-pindah
Menetap
3.
Sistem pertanian
Ladang berpindah-pindah, mengikuti pola tempat tinggal
Ladang menetap, mengikuti pola tempat tinggal
4.
Sistem ekonomi
Menggunakan sistem barter (pertukaran barang dengan barang)
Sudah menggunakan benda (emas, perak, dll.) untuk alat pembayaran/penukaran
5.
Sistem kemasyarakatan
Hidup mengelompok
Hidup secara terpisah
6.
Kebudayaan
Belum mengenal tulisan
Sudah mengenal tulisan
7.
Alat-alat pekerjaan
Dibuat dari batu
Dibuat dari logam
8.
Sistem pemerintahan
Dipimpin oleh kepala suku
Dipimpin oleh raja
9.
Pakaian
Dibuat dari kulit hewan
Dibuat dari kain
10.


  
 
 
 
 
JEJAK SEJARAH DI DALAM FOLKLORE, MITOLOGI, LEGENDA, UPACARA DAN LAGU DARI JAWA TIMUR
 
A.     Folklore lisan
 
1)      Bahasa rakyat
·         Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an).
·         Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.
·         Bahasa Jawa Dialek Surabaya atau lebih dikenal dengan Boso Suroboyoan.
·         Dialek bahasa Jawa daerah Malang
·         Bahasa Madura, banyak dituturkan oleh orang-orang suku Madura di pulau Madura.
·         Suku Osing di Banyuwangi menuturkan Bahasa Osing.
·         Bahasa Tengger, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Tengger, dianggap lebih dekat dengan Bahasa Jawa Kuna.
2)      Ungkapan tradisional
Jer basuki mawa beya. Artinya, kebahagiaan tidak datang dengan tiba-tiba, tapi diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan.
3)      Prosa rakyat
Mitos
Contoh: Nyi Roro Kidul.
Legenda
Contoh:
·         Legenda Kota Banyuwangi (legenda setempat),
·         Legenda Kota Surabaya (legenda setempat),
·         Legenda Gunung Batok (legenda setempat),
·         Legenda Roro Anteng dan Joko Seger (legenda perseorangan).
Dongeng
Contoh:
·         Cindelaras dan Ayam Sakti (dongeng manusia),
·         Ande-Ande Lumut (dongeng manusia),
·         Keong Mas (dongeng manusia),
·         Damar Wulan (dongeng manusia),
·         Sri Tanjung (dongeng manusia),
·         Sarip Tambak Oso (dongeng manusia).
4)      Nyanyian rakyat
Contoh: Cublak-cublak Suweng, Keraban Sape, Kembang Malathe, Tanduk Majeng, Rek Ayo Rek, Jamuran.
 
B.      Folklore sebagian lisan
 
1)      Kepercayaan rakyat
Contoh:  
·         Agama Kejawen
·         Gunung Semeru, yang diyakini tempat bertapanya Semar.
 
2)      Permainan rakyat
Contoh: Kekehan (gasing), congklak, galasin.
 
 
C.      Folklore bukan lisan
 
1)      Arsitektur rakyat
Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo, bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep). Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.
 
2)      Kerajinan tangan
Contoh: Berbagai macam gerabah (pot, piring, dll.)
 
 
3)      Senjata tradisional
Senjata tradisional dari daerah Jawa Timur yaitu Celurit
 
4)      Upacara
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini. Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggotawalisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan. Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian. 
 
 
5)    Makanan dan minuman khas
Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun dikenal akan nasi pecel madiun dan sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner khas daerah ini. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak bandeng, bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Trenggalek merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar yaitu Rambutan. Banyuwangi terkenal dengan sego tempong dan makanan khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura, sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek.
 
6)      Alat-alat musik tradisional
Contoh: Gamelan, saronen (alat tiup) dan alat musik tuk-tuk  (biasa dipakai untuk mengiringi acara kerapan sapi di Madura).
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar